Digitalindo, Jakarta - Beberapa dekade lalu, perusahaan teknologi raksasa Nokia sempat merajai pasar penjualan ponsel dunia. Namun keperkasaan Nokia itu berhasil dikangkangi Blackberry di medio tahun 2007.
Kini nasib Nokia dan Blackberry seperti hidup segan mati tak mau imbas digerus oleh ponsel atau smartphone buatan China hingga Korea Selatan. Bahkan dua nama besar Nokia dan BlackBerry yang sempat menjadi raja dan dipuji pada zamannya kini mulai dilupakan.
"Nokia dan BlackBerry itu kalau mereka meluncurkan lagi produknya sekarang lebih ke arah nostalgia saja," ujar Pengamat Smartphone Lucky Sebastian kepada CNNIndonesia.com, Rabu (17/2).
Lucky mengkritik Nokia dan Blackberry kerap meluncurkan produk namun tidak mampu bersaing dengan brand kenamaan seperti Apple, Samsung atau Xiaomi serta sederet merk ponsel yang berhasil beradaptasi dan bersaing. Smartphone Nokia dan Blackberry saat ini hanya sekedar peramai pasar saja.
Ia menjelaskan, beberapa tahun belakangan ini Nokia hanya mengeluarkan produk yang ala kadarnya. Tidak memiliki kelebihan yang signifikan dari produk-produk gawai saat ini. Itulah yang membuat masyarakat tidak tertarik kepada brand lawas ini
"Nokia ini layaknya orang suku Skandinavia. Luncurkan produk dengan spesifikasi yang minim dirasa cukup, dirasa sudah cukup canggih, chipnya sudah lebih kencang dan dirasa sudah mumpuni. Padahal untuk bersaing tidak begitu caranya," katanya.
Lucky mengatakan, sebelumnya banyak masyarakat yang masih berharap dengan brand Nokia memiliki fitur kamera yang jernih, baterai yang kuat. Namun saat peluncuran produk, harapan akan keunggulan itu tidak muncul.
Era kejayaan Nokia memuncak pada saat Operating System (OS) Symbian banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Namun publik jenuh, hingga digantikan BlackBerry dengan fitur unggulannya, BlackBerry Messenger alias BBM.
"Di tahun 2007-an BlackBerry sempat memiliki inovasi yang baik dengan meluncurkan ponsel yang ada messenger. Tapi ketika WhatsApp ada dan fitur Android lebih bagus, perlahan ditinggalkan," ujar Lucky.
Lucky menilai BlackBerry dan Nokia saat ini perlu berdarah-darah untuk mengejar ketertinggalan teknologi dengan produk ponsel lainnya. Saat ini banyak smartphone yang sudah menyematkan teknologi Artificial intelligence (AI).
Blackberry yang kini dipegang perusahaan Onward Mobility dikenal memiliki keunggulan di bidang keamanan. Namun hal itu belum cukup. BlackBerry juga sempat meluncurkan ponsel berbasis Android. Namun, dengan spesifikasi minim dan harga yang relatif mahal, gawai ini dinilai tidak laku di pasaran.
"Semua brand yang mencoba comeback itu belum pernah ada yang berhasil. baik itu BlackBerry, Nokia dan Motorola," ujarnya.
Hal yang sama juga terjadi pada Nokia. Nokia hanya mengeluarkan produk ponsel nostalgia tanpa memikirkan fitur yang dibutuhkan pengguna saat ini. Akibatnya Nokia dan Blackberry sudah kalah jauh dengan merek Smartphone China yang jau lebih agresif dari segi teknologi dengan harga yang kompetitif.
"Makannya untuk mereka yang akan mulai lagi tapi Research and Development (R&D) enggak kencang dan kurang sesuai permintaan pasar. Hype-nya hanya sebentar saja," ucapnya.
Blackberry kabarnya bakal meluncurkan ponsel 5G dengan keyboard fisik pada 2021 di sejumlah negara di dunia. Onward Mobility yang kini membawahi bendera Blackberry disebut bakal menyasar sejumlah pasar untuk menjual Blackberry 5G mereka. Beberapa lokasi yang disasar Amerika Utara,
 Eropa, dan Asia.
Menurut Lucky, tak ada yang istimewa dengan rencana peluncuran itu. Pasalnya perusahaan ponsel lain juga melakukan hal yang sama terkatit 5G.
"Jadi, yang utama adalah kesiapan dalam meluncurkan produk yang tidak dimiliki merek lain, namun dibutuhkan oleh pengguna," ujar Lucky
Pengamat ponsel pintar Herry SW juga memiliki pandangan serupa. Menurutnya BlackBerry dan Nokia sejauh ini masih terlalu bangga dengan kejayaan masa lalu. Akibatnya mereka tidak bisa kompetitif di market, terutama dari sisi harga.
Herry mengatakan, BlackBerry selalu menonjolkan keamanan, sedangkan Nokia mengedepankan build quality bagus dan security update yang berkelanjutan.
"Masalahnya di pasar nyata jauh lebih banyak yang lebih mempedulikan kesepadanan antara harga dan spesifikasi. Akibatnya, dua merek itu menjadi kalah bersaing," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Ia menilai, Nokia dan BlackBerry saat ini masih memiliki citra positif di pasar Indonesia. Namun, konsumen sudah lebih rasional dalam memilih gawai terbaru. Mereka tidak bisa hanya diajak bernostalgia saja
"Kalau Nokia dan BlackBerry ingin lebih berbicara, terutama di pasar Indonesia, ya mereka harus bisa lebih kompetitif, terutama di sisi harga," katanya.
Ia menjelaskan, untuk mendapatkan kembali merajai pasar penjualan ponsel di Indonesia bukanlah hal yang mudah karena kebijakan dan strategi pasar diputuskan oleh kantor pusat yang berada di luar Indonesia.
Hal ini menurutnya menjadi kendala, terlebih jika BlackBerry dan Nokia tidak bebas berkreasi, akan berujung pada kegagalan dalam penjualan.
Sumber : https://www.cnnindonesia.com

